Toxic Empathy
Toxic empathy is when you know someone's hurting you but you don't stop them because you understand why they're doing it.
I've been there in friendships, in relationship, making excuses like she's just insecure, he's been through so much, they don't mean it like that, because I saw their pain, I let them ignore mine. That's the trap of toxic emphaty.
You feel so much compassion for their inner child. You forget to protect your own. But I had to learn the hard way, understanding someone's trauma doesn't mean you tolerate their behavior.
I can see your pain, I can hold space for your story and I can still say you don't get to treat me like that. That's healthy emphaty compassion with boundaries. Love that doesn't require you to shrink or stay small to keep the peace, because I'm not losing my self again just to save someone who doesn't even want to be saved.
- Donya Khandan
Kalimat di atas benar-benar menamparku, karena seringkali kita lupa bahwa memahami orang lain bukan berarti harus membiarkan diri sendiri terluka.
Kita semua hidup dalam trauma masing-masing. Kita juga bukan pusat dunia, yang mana semua hal harus selalu seperti ingin dan kehendak kita. Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Masalahnya, kita mau fokus dimana? Mau fokus pada hal-hal yang bisa kita ubah dan kendalikan atau justru mau merutuki hal-hal yang diluar kendali kita?
Kita bisa mengerti trauma seseorang, tapi bukan berarti kita membiarkannya mengamuk dan mengacaukan hidup kita. Sebab bukan kah kita sendiri punya trauma dan inner child yang belum terselesaikan?
Kita tidak bertanggungjawab atas setiap kalimat jahat, hujatan dan hinaan yang dilontarkan orang lain.
Kita juga tidak selalu harus klarifikasi mengenai kehidupan kita sendiri.
Kita justru harus belajar mengatasi trauma itu sendiri. Kita belajar tidak menyakiti sekitar. Kita jangan bertindak semaunya, merasa trauma kita paling besar sendiri lalu berharap semua orang memaklumi.
Ada boundaries, ada batasan yang harus kita pasang dan juga kita maklumi.
Temui psikolog, psikiater, datangi majelis ilmu, cari circle kebaikan yang membuat kita lebih produktif, lebih sadar kondisi, lebih mensyukuri keadaan.
Jangan menyalahkan siapapun atas setiap kesulitan hidup yang kita alami. Dunia terlalu gonjang-ganjing untuk kita selalu mengharapkan seseorang meminta maaf, sementara pelakunya masih tetap tidak merasa bersalah. Biarkan dan lepaskan. Kita fokus pada healing diri sendiri.
Kita gak pernah tahu di akhirat nanti, kita butuh pengampunan / butuh dimaafkan oleh siapa. Lebih baik kita berusaha jadi yang lebih baik sehingga tidak lagi menyakiti hati orang lain.
Mari terus belajar memaafkan, tetapi jangan lupa untuk tetap melindungi dirimu sendiri.
Semoga Allah lembutkan dan lapangkan selalu dada kita dari segala hal yang membuatnya terasa berat dan sesak.

Komentar
Posting Komentar