Qadarullah Wa Ma Syaa'a Fa'ala
Dadaku tiba-tiba sesak.
Teringat momen keguguran lagi.
Mungkin aku belum benar-benar ikhlas. Mungkin aku ingin menyalahkan seseorang yang saat itu begitu gencarnya menyerangku sampai rasanya pikiranku kacau. Tapi bukankah sebenarnya semua atas kehendakku sendiri?
Aku membiarkannya mengacak-acak pikiran dan suasana hatiku, sampai mungkin aku lalai, aku abai, sampai akhirnya aku keguguran lagi.
Qadarullah wa ma syaa'a fa'ala.
Semua terjadi atas kehendaknya.
Tidak pernah ada air mata yang sia-sia.
Tidak pernah ada kesalahan dalam setiap ketetapannya.
Aku hanya.. aku hanya sedang berusaha mengurai duka. Dimana kadang-kadang, aku masih ditahap denial dan penuh amarah.
Awalnya aku bertanya-tanya, “Kenapa aku, ya Allah?”
Tapi perlahan aku belajar: tidak semua kehilangan adalah hukuman.
Kadang, kehilangan adalah bentuk kasih sayang yang dibungkus rahasia.
Mungkin Allah tahu tubuhku belum siap.
Mungkin Allah ingin aku lebih dekat pada-Nya.
Atau mungkin, si kecil itu memang hanya diutus sebentar untuk menitipkan cinta, lalu pulang dengan damai.
Qadarullah.
Allah Maha Baik.
Bahkan di tengah kehilangan, ada cinta yang tetap tinggal, kami yang berduka menjadi lebih saling mengeratkan diri.

Komentar
Posting Komentar