Bukan Medan Peperangan

Aku tidak mencari menang dan kalah. Sebab hidup bukan tentang perlombaan, bukan tentang hitam dan putih, bukan juga tentang siapa yang lebih cepat mencapai sesuatu. 

Aku pernah memaklumi setengah mati setiap sikap yang diluar batas. Kenyataannya aku justru menyakiti diri sendiri dengan toxic empathy. Aku terlalu berusaha memahami lalu memberikan pemakluman pada mereka yang seenaknya saja akan hidupku, sementara aku begitu keras kepada diri sendiri.

Aku tidak sedang mencari validasi, karena apa yang kumiliki sekarang bukan sekadar pengakuan, tetapi tanggung jawab. Tanggung jawab atas diri sendiri, atas hidup yang ingin kujalani dengan tenang. Bahkan atas setiap helai baju yang mungkin tidak pernah kusentuh juga itu merupakan tanggung jawab yang bisa amat berat di akhirat nanti.

Aku tidak lagi bereaksi pada bola liar panas. Aku menyerahkan semuanya pada sebaik-baik tempat mengadu.  Aku bukan samsak bagi sembarang orang yang sedang dikuasai emosi dan tak mampu mengatur dirinya. Aku juga bukan papan panah yang bisa semena-mena dijadikan sasaran atas segala hal yang mengganggu kehidupan mereka.

Rasanya sudah cukup pemakluman.

Ada batas yang harusnya sama-sama kita hargai.
Diamku adalah jawaban, tanda bahwa aku telah keluar dari lingkaran khayalan dan peperangan yang orang lain ciptakan sendiri.

Aku belajar, bahwa tidak semua yang harus dijelaskan akan dipahami, dan tidak semua yang diam berarti kalah juga salah.

Sejak awal aku tidak berniat berperang. Satu-satunya yang ingin aku lawan adalah diriku sendiri di hari kemarin, versi diriku yang belum cukup baik, belum cukup tenang dalam bersikap.

Kini aku ingin lebih fokus pada banyak hal yang membawa kebaikan dan ketenteraman. Aku ingin lebih banyak waktu untuk tersenyum dan tertawa bersama orang-orang yang menyayangiku. Aku ingin menikmati sisa hidup dengan kedamaian.

Maka kuakhiri cukup sampai disini. 


Komentar

Postingan Populer