Lomba Pertama
Hari ini adalah hari H dari pertama kalinya kakak Nadhira ikut lomba. Semua excited. Kita gak berekspektasi banyak selain berharap kakak Nadhira bakal berani tampil.

Persiapan kami lakukan baik di rumah maupun di sekolah. Adek Naufal juga ikut excited, dia selalu temani kakaknya hafalan. Ketika kakaknya malu-malu suara pelan. Naufal maju untuk berdiri di samping kakaknya, dan membaca hafalan doa dengan sekencang-kencangnya.
Kemarin juga Nadhira sempat ngambek dan ga mood sekolah kira-kira seminggu sebelum lomba. Semua ketar-ketir, baik aku, suamiku bahkan ustadzahnya juga di sekolah. 😂
Tetapi Nadhira selalu menjadi Nadhira. Dia sering kali diatas ekspektasi kami. Kita kembalikan ke Allah lagi, kita coba tenang dan terus membujuk.
Ternyata malah dia yang semangat banget di hari H lomba. Dia bangun sendiri dari shubuh lho 😂 jadi yaudah kita persiapkan agar moodnya bagus. Kita biarkan dia memilih mau makan minum apa. Sampai di lokasi setelah registrasi aku biarkan dia bermain
Papanya yang takut anaknya jatuh. Aku santai karena memang sudah sering lihat anaknya manjat tinggi. 🤣 Aku memikirkan udah bebasin aja, nanti dilarang moodnya gak bagus.
Kebetulan juga Nadhira dapat nomor urut yang pertama. Sebagai ibu, aku juga khawatir kalau nomor urutnya agak lama nanti dia keburu gak mood, jadi pas dapat nomor 1 yaa it's okay lah tak apa 🤣

Yang aku ingat waktu selesai lomba ke pengumuman itu cukup lama. Selesai dia lomba itu jam 9, pengumumannya di 11.30.
Oleh sebab itu kami santai aja, kami pergi cari makan dulu, keluar dari area sekolah. Sesampainya di parkiran (ketika balik lagi ya maksudnya) eh sudah mulai dibacakan pemenang-pemenang lomba. Tergopoh-gopoh lah kami lari lagi ke sekolah dan mendekat ke panggung. 😂
Belum sempat kami mencari tempat duduk. Kami baru saja berdiri di depan panggung, itu pun di pinggir tenda karena ya gak ada lagi kursi kosomg.
Tiba-tiba dibacakan "Pemenang Lomba Doa Sehari-Hari tingkat TK A" ekspresi aku sama langsung lirik-lirikan. 😂😂😂
Gak sempat kami mengeluarkan kata-kata, semua diam mendengarkan. Juara Harapan 2 blablabla, Juara Harapan 1 blablabla masih bukan nama Nadhira. Masuk ke juara ke 3, disebutlah nama Nadhira dan asal sekolahnya. Lagi dan lagi aku sama suami saling melirik, tapi kali ini dengan senyum semringah. 😂
Suamiku gak peduli sekitar dia lsg "Yeay, yeay, yeay, kakak Dhira menang, kakak Dhira hebat" digendong dan peluknya anaknya langsung.
Aku sengaja menulisnya disini, biar terkenang, biar tersimpan, biar Nadhira tau kalau dia dicintai sebegitu besarnya. Biar Nadhira memahami kalau apapun itu dia selalu kami rayakan. 🫶
Waktu diajak naik panggung untuk ambil hadiah aku lihat Nadhira justru mau nangis. Aku yakin pasti menurutnya panggung terlalu besar dan kenapa harus naik sendirian ke atas sana.
Ternyata kemudian papanya membisikkan kata-kata. "Kakak mau dikasih hadiah itu, mau dapat piala, kan kakak menang, diam dulu di atas ya." Lalu anaknya lsg berani dan senyam senyum di atas panggung. 😂🤣
Momen-momen yang terjadi kemarin buat aku meyakini kalau setiap anak memang membutuhkan ayah yang supportif. Jadi terimakasih untuk suamiku yang mau meluangkan waktunya, mau ambil cuti 1 hari buat menemani anaknya, menyemangati dan bahkan beli hadiah kecil-kecilan buat keberaniannya.
Terimakasih ya kak buat setiap perjuangannya. Terimakasih juga adek Naufal yang semangat banget bantuin kakaknya hafalan. Tidak lepas juga pastinya terimakasih untuk para guru-guru di sekolah atas setiap bimbingan dan bantuannya. Semoga Allah membalas dengan segala kebaikan dan keberuntungan dalam hidupnya. Aamiin. 🫶



Komentar
Posting Komentar