Perihal Memaafkan

Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mengira bahwa memaafkan ternyata sesulit ini.

Di umur yang sudah 30+ ini ternyata aku tidak punya cukup banyak masalah ataupun kebencian sampai yang rasanya sulit bagiku untuk memaafkan seseorang.

Sampai ketika akhirnya aku mengalami suatu kejadian yang cukup mengguncangkan. Aku diliputi benci dan amarah yang mendalam. Apalagi yang bersangkutan tidak pernah mengucapkan kata maaf 1x pun.

Aku sadar kalau aku tidak bisa memelihara rasa benci ini. Aku mau hidup seperti sebelumnya, dimana hari juga hati terasa lebih enteng. Aku sadar amarah ini membelenggu diriku sendiri.

Tapi ternyata memaafkan pun butuh proses.

Aku tidak memaksakan diri untuk memaafkan seseorang yang memang menyakitiku begitu dalam. Sebaliknya, aku belajar memaafkan diriku sendiri. Memaafkan diriku yang membiarkannya menyakitiku sebegitu besarnya. Memaafkan diriku yang terbawa arus dan mengizinkan dia menoreh luka itu. Memaafkan diriku yang terlalu lama fokus pada hal-hal yang tidak perlu.

Aku memilih berdamai dan menerima bahwa aku juga manusia biasa. Aku bisa merasa terluka. Aku boleh juga merasa sakit hati dan bukan tugasku untuk meminta seseorang yang menyakitiku itu meminta maaf. Biarlah itu menjadi urusannya dengan Yang Maha Kuasa.

Sungguh kita tidak pernah tahu tentang kapan kita butuh dimaafkan oleh seseorang yang sudah kita sakiti.

Sekali lagi aku belajar.
Belajar bahwa yang terbaik adalah mengenal, memaafkan dan memberikan pengalaman hidup yang lebih baik dan lebih seru untuk diriku sendiri dan juga keluargaku sendiri.

Komentar

Postingan Populer